1541333pKOMPAS.com — Sekarang saya benar-benar kehilangan Mbah Surip. Sekitar pukul 10.30 WIB, hidup Mbah Surip tak tertolong lagi. Ia mengembuskan napas terakhir sebelum sempat dirawat di RS Pusdikkes, Jakarta Timur.

Sempat kaget juga ketika seorang teman mengabarkan berita duka ini. Namun, kemudian saya biasa-biasa kembali sebagaimana diajarkan oleh Si Mbah Surip ketika menghadapi situasi macam apa pun.

Jangan-jangan, kepergiannya yang selekas itu adalah buah dari pola hidupnya yang ngawur. Bayangkanlah, dalam usia setua itu, dalam sehari ia bisa menghabiskan 20 gelas kopi dan minimal rokok sebanyak tiga bungkus. Selebihnya, saya cuma bisa berdoa moga-moga Si Mbah dalam tidurnya yang abadi benar-benar nyaman, sebagai penebus tidurnya yang kacau sepanjang hayatnya sebelum beliau memiliki rumah hasil bonus dari lagu “Tak Gendong” yang penghasilan dari ring-back tone (RBT)-nya konon mencapai Rp 4,5 miliar.

Namun sudahlah, bukankah semua perjalanan harus ada ujungnya. Kali ini adalah akhir perjalanan kakek empat cucu yang terkesan tiba-tiba, dan semua yang tiba-tiba tentu saja mengejutkan bagi semua orang, termasuk saya.

Bayangkanlah, Si Mbah yang baru saja menikmati hasil kucuran keringat dari kerja kerasnya sepanjang hidup, Si Mbah yang baru saja membuat semua orang benyanyi “…Tak gendong ke mana-mana…”, Si Mbah yang baru saja memberi teladan betapa berkarya tak mengenal usia dan penampilan, mendadak harus pergi sesegera itu.

Sekarang saya cuma bisa mengenangmu, Mbah. Hari-hari yang pernah kita lewati adalah guru bagiku. Masih kuingat Mbah, semua pelajaran yang tak pernah kau wedar lewat kata-kata, tapi lewat perbuatan. Bahwa tiada yang patut ditakuti dalam hidup. Bahwa tiada kata menyerah dalam perjuangan. Dan bahwa jika pun sampai pada puncak hiduplah biasa-biasa saja.

Wis yo Mbah, kami yang mencintaimu, kami yang telah engkau hibur lewat gaya dan lagu-lagumu dan juga ketawamu, berdoa untukmu selalu. Semoga Tuhan senantiasa menjaga dirimu dan keluargamu. Hati-hati di jalan Mbah. I Love You Full…

Jodhi Yudono